Hacker Korea Utara Curi Uang Kripto Senilai USD 400 Juta, Diduga untuk Dana Program Nuklir

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Sebuah perusahaan analisis blockchain bernama Chainalysis mengeluarkan pernyataan terkait peretasan oleh hacker Korea Utara atas aset digital. Selama tahun 2021, setidaknya terdapat 400 Juta Dolar Amerika Serikat aset digital yang dicuri. Hal ini setara dengan Rp. 5,6 triliun.

Menurut Chainalysis, serangan dalam platform criptocurrency tersebut merupakan kejahatan yang paling sukses dalam dunia maya. Terdapat 7 serangan pencurian yang menghasilkan dana sebanyak ratusan juta dolar Amerika.

“Peretas Korea Utara berhasil menembus setidaknya tujuh pertukaran mata uang kripto dan mencuci uangnya,” kata salah satu peneliti di perusahaan analisis tersebut dilansir dari NBC News.

Metode Peretasan Hacker Korea Utara

Ilustrasi Mata Uang Kripto/Cryptocurrency (cnbcindonesia.com)

Dalam menyelenggarakan aksinya, para peretas melakukan berbagai macam cara. Di antaranya dengan umpan phising, ekspolitasi kode, hingga menggunakan malware dalam menguras dana perusahaan sasaran. Mereka menyasar pengguna dompet panas crypto yang terhubung di internet. Jaringan tersebut rentan terhadap peretasan.

Sasaran peretasan biasanya berasal dari kalangan perusahaan kecil dan menengah. Terkadang pula peretas tersebut menyasar perusahaan besar seperti bank bahkan studio film.

Hasil pencurian selanjutnya dicuci dan disalurkan kepada sebuah alamat yang disinyalir dipegang oleh otoritas Korea Utara.

Dicurigai Masih Berkaitan dengan Lazarus Group

Lazarus Group (gbhackers.com)

Peretasan uang kripto oleh Korea Utara bukanlah hal yang baru. Pencurian aset digital tersebut sudah dilakukan sejak beberapa tahun ke belakang. Walaupun ada bantahan dari pemerintah Korea Utara, tetapi Chainalysis berpendapat bahwa peretasan ini melonjak hingga 40% dari tahun sebelumnya.

“Dari 2020 hingga 2021, jumlah peretasan yang terkait dengan Korea Utara melonjak dari empat menjadi tujuh, dan nilai yang dikumpulkan dari peretasan ini tumbuh sebesar 40 persen,” ungkap perusahaan analisis blockchan tersebut.

Chainalysis juga menduga bahwa pelaku peretasan masih dilakukan oleh Lazarus Group. Group ini telah dikenal sebagai kelompok peretas di dunia, bahkan telah diberi sanksi oleh Amerika Serikat.

Masih ingat dengan virus Ransomware “Wannacry”? Lazarus juga dituduh sebagai dalang dalam serangan malware tersebut. Selanjutnya ada serangan siber Sony Picture, peretasan bank internasional dan rekening pelanggannya, hingga serangan siber terhadap studio Hollywood yang disinyalir dilakukan oleh peretas Korea Utara.

Lazarus Group diyakini di bawah kendali Biro Intelijen Utama Korea Utara.

Pendanaan untuk Program Pengembangan Nuklir

Rudal Balistik Korea Utara (Courtesy of Korean News Agency)

“Begitu Korea Utara mendapatkan hak asuh atas dana tersebut, mereka memulai proses pencucian yang hati-hati untuk menutupi dan menguangkannya,” ungkap laporan Chainalysis.

Dalam sebuah panel Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terdapat isu yang mencuat bahwa Korea Utara menggunakan dana curian tersebut untuk program nuklir dan rudal balistik. Hal tersebut dilakukan guna menghindari sanksi internasional.

Dalam sebuah laporan dari PBB, pada tahun 2019-2020 terdapat transaksi oleh Korea Utara yang melakukan penjualan aset digital sebanyak USD 316 Juta. Hasil penjualan tersebut selanjutnya digunakan dalam pendanaan program pengembangan nuklir.

Taktik pada tahun 2020 tersebut diduga berhasil dan dilakukan kembali pada tahun 2021 kemarin.

Latest articles