Di Balik Transaksi PayLater: Menumbuhkan Prilaku Konsumtif dan Tunggakan Utang

Ramainya konsep e-market dan e-commerce memunculkan sebuah sistem pembayaran baru yang dikenal dengan paylater. Layanan pembayaran paylater saat ini sangat digemari oleh masyarakat dengan alasan sangat memudahkan proses transaksi.

Layanan paylater adalah konsep pembayaran transaksi jangka pendek yang memungkinkan pembeli mendapatkan barang dengan melakukan pembayaran di masa mendatang. Singkatnya, paylater bisa dijelaskan dengan sebuah jargon yang sering digaungkan oleh marketplace, “Beli dulu, bayarnya belakangan.” Ya, paylater bersaudara dekat dengan utang/kredit.

Alasan Kaula Muda Menggunakan Paylater

Di dunia digital saat ini, semua kegiatan bisa dilakukan hanya dengan melalui smartphone. Tak terkecuali dengan transaksi jual-beli. Di media sosial sendiri, terjadi pro-kontra penggunaan paylater. Ada yang menilai paylater sangat membantu dan ada pula yang takut menggunakannya.

Dilansir dari The Conversation, Rahayu D.N.H dari Universitas Gajah Mada merangkum 3 alasan generasi Z suka menggunakan paylater:

Pertama: Menggunakan Paylater Terlihat Lebih Hemat dan Masuk Akal

Kekhawatiran pembeli apabila menggunakan kartu kredit ialah terdapat potongan yang lumayan. Beberapa marketplace juga menawarkan paylater dengan bunga 0% atau lebih rendah dari kartu kredit.

Kedua: Fasilitas dari Penjual

Dukungan paylater juga berasal dari pihak penjual. Pihak retail juga diuntungkan dengan sistem paylater karena bisa menggait para pembeli dari kalangan gen-Z.

Ketiga: Momentum yang Tepat

Pandemi covid-19 menumbuhkan ekosistem bisnis digital. Kebanyakan orang lebih memilih untuk berbelanja melalui toko online. Belum lagi dengan diskon besar-besaran marketplace pada waktu-waktu tertentu yang mengundang pembeli untuk menggunakan paylater.

Paylater: Mengatasi Masalah dengan Masalah

Selain memudahkan pembeli dalam melakukan kredit peminjaman dengan cepat, mudah, dan tanpa ribet. Paylater juga menimbulkan masalah-masalah baru yang akan dihadapi oleh pembeli.

Masalah Pertama: Menimbulkan Perilaku Konsumtif

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Lia dan Natswa (2021), menunjukkan bahwa generasi Z memiliki kontrol kognitif yang rendah dan perilaku spontan yang dapat mengarah pada potensi konsumsi berlebih atau pembelian impulsif. Perkembangan teknologi finansial mengakomodasi karakteristik ini dengan menawarkan opsi bayar praktis dan membuatnya terkesan seperti keputusan yang mudah. Paylater mengakomodasi perilaku impulsif mereka sehingga dapat memicu konsumsi yang berlebihan.

Masalah Kedua: Lilitas Cicilan

Dalam sebuah kasus yang diunggah di media sosial, ada seorang konsumen dengan utang awal sebesar Rp 450 ribuan berubah menjadi hampir Rp 18 juta dalam waktu satu tahun. Meski di awal disebutkan bahwa klaim keuntungan dari PayLater ini adalah (seringkali) tidak memiliki bunga cicilan, fakta di lapangan menunjukkan bagaimana utang seseorang dapat menggelembung karena bunga.

Latest articles