Dua Polisi Penembak Laskar FPI Divonis Lepas, Mengapa?

Ensipedia.id, kendal – Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan melepaskan tuntutan pada 2 polisi kasus penembakan laskar FPI yang menjadikan keduanya divonis lepas.

Sebelumnya, pada 7 Desember 2020 telah terjadi insiden penembakan antara polisi dengan anggota FPI yang mengakibatkan 6 orang tewas dari pihak FPI, yaitu Lutfhi Hakim, Akhmad Sofyan, M. Reza, M. Suci Khadavi P, Andi Oktiawan dan Faiz.

Mulanya, 4 korban di bawa oleh 3 polisi menggunakan mobil setelah mereka terlibat kejar-kejaran ketika hendak mengawal Habib Rizieq. Ketiga polisi itu yakni Ipda Yusmin, Briptu Fikri dan Ipda Elwira.

Ipda Yusmin dan Ipda Elwira duduk di kursi bagian paling depan, kemudian di barisan tengah ada Briptu Fikri dan Luthfi Hakim, sementara bagian paling belakang diisi oleh Akhmad Sofyan, M Reza dan M Suci Khadavi P. Kejadian bermula ketika keempat laskar FPI mulai melakukan serangan ke Briptu Fikri. Oleh karena itu, polisi mengarahkan tembakan kepada keempat laskar FPI hingga meninggal dunia.

Dua polisi melepaskan tembakan ke tubuh korban lantaran tidak bisa membidik bagian yang bisa dilumpuhkan, seperti kaki. Karena pada saat itu, posisi korban sedang duduk sehingga yang terlihat hanya bagian atas tubuh korban. Dipastikan mereka tidak diborgol saat itu.

Divonis Lepas oleh Hakim 

Kedua polisi yang divonis bebas sujud syukur | Detik news

Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda Yusmin dinyatakan bersalah berdasarkan tuntutan jaksa terkait kasus penembakan kepada laskar FPI tetapi dalam rangka pembelaan terpaksa.

“Mengadili, menyatakan Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana sebagai dakwaan primer penuntut umum, menyatakan perbuatan Terdakwa Fikri Ramadhan dan M Yusmin melakukan tindak pidana dakwaan primer dalam rangka pembelaan terpaksa melampaui batas, menyatakan tidak dapat dijatuhi pidana karena alasan pembenaran dan pemaaf,” kata hakim ketua Muhammad Arif Nuryanta saat membacakan vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Jumat (18/3/2022).

“Melepaskan Terdakwa dari segala tuntutan, memulihkan hak-hak Terdakwa. Menetapkan barbuk 1-8 seluruhnya dikembalikan ke penuntut umum,” jelas hakim.

Dilansir dari Tempo.com, sebelumnya Jaksa Penuntut Umum yang menuntut hukuman pidana 6 tahun penjara. Jaksa menuntut kedua polisi itu dengan Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Undang-Undang No.1 Tahun 1964 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Majelis hukum sepakat dengan pembelaan kuasa hukum dua terdakwa, yaitu Briptu Fikri dan Ipda Yusmin. Hakim beralasan ada serangan yang melanggar hukum dari laskar FPI yang ada saat itu dengan cara mencekik, mengeroyok, menjabak, serta merebut senpi (senjata api) milik Briptu Fikri sehingga polisi harus melakukan tindakan tegas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hilmi Harsaputra
Menyukai alam dan dunia secara fisik, flora fauna serta astronomi.

Latest articles