Disinformasi, Kunci Kemenangan Ferdinand Marcos Jr. Dalam Pilpres Filipina

ENSIPEDIA.ID, Jember – Ferdinand Marcos Jr. menang telak atas lawan-lawannya dalam pemilihan Presiden Filipina baru untuk menggantikan Rodrigo Duterte. Kemenangan ini menjadi bukti kebangkitan dinasti Marcos.

Sebelumnya, sang ayah, Ferdinand Marcos Sr. pernah menduduki posisi tersebut tetapi digulingkan dalam aksi demonstrasi pada 1986 dengan tuduhan pelanggaran HAM, korupsi dan bertindak sebagai pemimpin diktator.

Kemenangan ini tidak lepas dari proses penyatuan dua dinasti politik yang kuat di Filipina, yakni Marcos dan Duterte. Dalam setiap kampanyenya, Bongbong Marcos selalu bersama dengan Sara Duterte (anak dari Rodrigo Duterte) yang mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden.

“Dalam pemilu kali ini, dinasti politik Marcos yang kuat di utara Filipina, menjalin kekuatan dengan dinasti politik Duterte yang kuat di bagian selatan,” ujar Yosef Djakababa, Dosen Hubungan Internasional, Kajian Asia Tenggara dari Universitas Pelita Harapan, dilansir dari DW.

Sejumlah analis juga menyebutkan bahwa kunci kemenangan dari Ferdinand Marcos Jr. dalam pemilu kali ini adalah maraknya kampanye di media sosial yang berisi disinformasi mengenai keluarganya yang dikenal memiliki citra buruk di mata masyarakat Filipina. Terlebih lagi, pemilih dalam pemilihan presiden Filipina kali ini mayoritas berasal dari kalangan anak muda yang tidak mengetahui bagaimana bobroknya Dinasti Marcos pada masa lampau.

“Faktor lainnya adalah pemilih muda di Filipina yang tidak mengalami rezim pemerintahan Marcos Sr. Mereka menghadapi disinformasi mengenai sejarah yang beredar di media sosial sejak dua tahun terakhir,” kata Yosef Djakababa.

Menurut Times, salah satu bukti pembelokkan sejarah oleh Dinasti Marcos adalah viralnya sebuah video di Tiktok Joey Toledo yang berdurasi 13 detik. Dalam video tersebut terjadi percakapan antara Bongbong Marcos dengan Juan Ponce Enrile, menteri kehakiman dan pertahanan ketika Ferdinand Marcos Sr. berkuasa. Enrile mengaku bahwa pada zaman ketika ayahnya Bongbong Marcos berkuasa, orang Filipina dapat meninggalkan rumahnya tanpa dikunci dan tidak akan ada orang yang berani memasukinya.

Tentu pengakuan menteri tersebut tidak berdasarkan fakta yang ada. Marcos Sr. memerintah Filipina pada 1965 hingga 1986 di bawah undang-undang darurat militer. Selama dia menjabat sebagai presiden itu, terdapat 60.000 orang ditahan, lebih dari 30.000 disiksa, dan diperkirakan sekitar 3.000 dibunuh. Setelah lengser pada 1986 Marcos Sr. dan keluarganya pergi Hawaii dan meninggal pada 1989.

Pada 1991, keluarga Marcos diizinkan untuk kembali ke Filipina. Dengan cepat Marcos Jr. dan ibunya, Imelda kembali ke kancah dunia politik. Hasilnya, Imelda dapat terpilih sebagai anggota kongres selama empat periode.

Adapun tindakan lain yang dilakukan oleh Marcos Jr. dalam memenangkan pemilu kali ini adalah menyebarkan disinformasi tentang lawan terkuatnya, yakni Leni Robredo. Beberapa pernyataan Roberdo oleh pihak Marcos seringkali dipelintir dan dibuat-buat agar seolah mengatakan omong kosong.

Melansir dari rappler, pada tanggal 1 Januari hingga 10 Desember tahun lalu, Leni Robredo yang juga merupakan Wakil Presiden petahana itu memuncaki daftar teratas sebagai tokoh politik yang menjadi sasaran disinformasi

 

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles