ENSIPEDIA.ID, AMBON – Puisi menjadi salah satu wadah tersalurnya emosi dari seorang penyair entah secara tersirat maupun jelas terbaca maksud dari isi puisi tersebut kepada pembacanya. Banyak hal yang bisa dituangkan dalam puisi dan subjek penikmat puisi tersebar tanpa ada rentang usia serta dari berbagai kalangan. Ide yang didapatkan juga sangat bervariatif mulai dari hal-hal umum seperti, kehidupan kita sehari-hari hingga mencakup kritikan kepada pemerintah. 

28 April 2021 adalah Hari Puisi Nasional lho! Tapi, tau gak sih, kenapa dipilih tanggal ini? Let’s take a look. Adalah salah seorang maestro puisi besar yang telah berpulang ke haribaan-Nya, Chairil Anwar — dibalik pencanangan hari puisi nasional. Ini tersebab menjadi alasan untuk mengenang beliau yang telah wafat pada 28 April 1949 di Jakarta.

“Aku adalah apa-apa yang kau pilih lalu kau pisahkan dari (Keakuanku)
Yang mencebik oleh (Kita) yang gagal”-Gika,2021.

Pertanyaan yang muncul, kenapa sih harus Chairil Anwar? Dilansir dari Kompas,com — Beliau menjadi orang yang cukup memiliki ketertarikan yang unik dalam berekspresi, dengan melahirkan puisi-puisi dengan cita rasa baru. Pada Eranya, Chairil Anwar bersama teman seangkatannya, yakni, Angkatan 45, yang merupakan pelopor puisi yang bernuansa lebih berani dan mandiri. Angkatan 45 merupakan pemuda-pemudi yang berkontribusi dalam mendobrak aturan kaku dari pemerintahan Jepang di bidang Kesenian.Puisi-puisi menye penuh dengan penghayatan yang terkesan mendayu-dayu digeser olehnya dengan memperkenalkan puisi bebas yang dengan lugas menuangkan apa-apa yang ada dalam pikiran si penyair. Aliran ini disebut Ekspresionisme.

baca juga artikel sejarah lainnya Inggit Garnasih, Sejarah yang Terlewatkan

Sejak pemerintahan Jepang memberi penawaran cantik kepada orang-orang yang berkecimpung dalam bidang kesenian, Chairil Anwar adalah orang pertama yang merasa tahu dan perlu menolak ajakan penuh siasat itu. Saat itu, Beliau dibarengi dengan Amal Hamzah serta penyair yang merupakan kawanannya dalam berkesenian menyindir keras orang-orang yang menerima tawaran dari Jepang. Dari hal ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa menjadi seorang yang berjiwa patriotik juga dapat dicerminkan melalui apapun yang kita geluti, dan Chairil Anwar adalah contoh konkretnya.

Oke, sudahi pengalaman menjajak sejarah masa lalu, dan di bawah ini adalah salah satu puisi legendaris dari sang maestro. Yuk, kita kenang beliau melalui karya ini!

“Aku
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi”

Semoga hari puisi nasional menjadi sebuah momentum pengingat bahwa para penyair pun mempelopori perlawanan terhadap para penjajah, dan kata-kata bisa menjadi salah satu senjatanya.