Ancaman Kepunahan Bahasa-Bahasa Daerah, Kita Harus Bagaimana?

ENSIPEDIA.ID, Kendari – Bahasa daerah merupakan salah satu keragaman budaya Indonesia yang patut dilestarikan. Terdapat pribahasa yang berbunyi “Bahasa menunjukkan bangsa.” Artinya, jati diri sebuah bangsa adalah bahasa itu sendiri.

Setiap daerah, bangsa, atau suku di Indonesia pasti memiliki bahasa dan dialegnya masing-masing. Namun demikian, penggunaan bahasa daerah di kalangan masyarakat perkotaan ataupun di generasi milenial dan generasi Z mulai menurun bahkan cenderung ditinggalkan.

Kabar buruk tentang bahasa daerah pun dikabarkan oleh Kemendikbud RI melalui Badan Pembinaan Bahasa, bahwasanya dalam rentang waktu 1992-2017 terdapat 4 bahasa daerah di Indonesia yang kondisinya kritis atau sangat terancam. Serta terdapat 18 bahasa daerah yang terancam punah.

Hal lebih ekstrem diungkapkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Peneliti Utama pada Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Obing Katubi menyatakan bahwa dari +700 bahasa daerah di Indonesia, 400 bahasa di Indonesia bagian timur dinyatakan terancam punah.

“Mayoritas hasil penelitian terkini menunjukkan bahasa-bahasa tersebut terancam punah,” ujar Obing dalam webinar, dikutip melalui CNN Indonesia.

Dalam ruang lingkup dunia internasional, UNESCO juga menyatakan hal yang serupa. Dalam peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2020, mereka mengungkapkan data bahwa secara global 40 persen populasi di dunia tidak lagi memiliki akses ke pendidikan dalam bahasa ibu.

Ada banyak faktor yang membuat bahasa daerah menjadi punah. Salah satunya sebab kepunahan bahasa ialah karena kurangnya penutur bahasa tersebut. Hal ini disebabkan karena generasi penerus bahasa daerah lebih sering menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa ibu mereka.

Setidaknya dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya yang diterbitkan oleh LIPI (Tondo: 2009) terdapat 10 faktor yang menjadi sebab punahnya sebuah bahasa.

1. Pengaruh bahasa mayoritas yang digunakan pada tempat bahasa daerah tersebut digunakan sehingga bahasa daerah tersebut gagal bersaing dengan bahasa mayoritas.
2. Kondisi masyarakat yang bilingual atau multilingual.
3. Ekspansi bahasa asing karena globalisasi.
4. Faktor imigrasi.
5. Perkawinan antar etnik.
6. Bencana alam atau musiba tertentu yang merenggut penutur bahasa.
7. Kurangnya penghargaan kepada bahasa ibu.
8. Kurangnya intensitas penggunaan bahasa daerah pada lingkup rumah tangga.
9. Faktor ekonomi.
10. Faktor penggunaan bahasa Indonesia.

Kita Harus Bagaimana?

Walaupun bahasa yang punah tersebut bukanlah bahasa ibu kita. Namun, punahnya sebuah bahasa daerah di Indonesia juga membuat kita bersedih. Pasalnya, terdapat warisan budaya dari bangsa kita yang harus lenyap dan hilang.

Badan Pembinaan Bahasa sendiri telah melaksanakan beberapa program untuk mencegah punahnya sebuah bahasa. Program tersebut ialah dengan melakukan Pemetaan Bahasa dan Sastra; Kajian Vitalitas Bahasa dan Sastra; Konservasi Bahasa dan Sastra; Revitalisasi Bahasa dan Sastra; dan Peta dan Registrasi Bahasa dan Sastra Daring.

Cara yang paling ampuh dalam melestarikan sebuah bahasa ialah dengan cara tetap menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, paling tidak dalam lingkup rumah tangga. Pembudayaan penggunaan bahasa daerah juga harus dilakukan proses regenerasi. Orang tua haruslah senantiasa menurunkan bahasa ibu mereka kepada anak-anaknya. Hal ini dilakukan agar bahasa tidak kehabisan penutur.

Mari ingat selalu slogan Badan Pembinaan Bahasa “Utamakan bahasa Indonesia, Lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.”

Latest articles