ACT Selewengkan Dana Ummat, Gaji Petinggi Capai 250 juta per Bulan

ENSIPEDIA.ID, Jember – Menurut Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2021, Indonesia merupakan negara paling dermawan di dunia. Sikap gotong royong sudah tertanam dalam jati diri masyarakat Indonesia. Mereka dengan tulus membantu sesama ketika terjadi sebuah musibah. Namun, yang tak mereka sadari adalah sebagian petinggi lembaga penyalur sumbangan ikut menikmati uang “ummat” tersebut, salah satunya adalah Aksi Cepat Tanggap atau ACT.

Dengan kepopulerannya, Aksi Cepat Tanggap dipercayai oleh banyak orang untuk menyalurkan sumbangan kepada orang-orang yang sedang membutuhkan. Sayangnya, kepercayaan tersebut tidak diimbangi dengan pengelolaan keuangan internal yang baik. Hal tersebut diakibatkan gaji pengurus yang besar serta fasilitas mewah yang diterima oleh petinggi dan pejabat yayasan.

Melansir dari Tempo, Ahyudin selaku pendiri dan eks Presiden ACT diduga menerima gaji Rp 250 juta per bulan. Adapun senior vice president menerima gaji Rp 200 juta, vice president Rp 80 juta, dan direktur eksekutif mendapatkan Rp 50 juta. Lebih mencengangkan lagi, para pendiri yayasan ini juga menerima fasilitas kendaraan dinas yang mewah, seperti Toyota Alphard, Honda CR-V, hingga Mitsubishi Pajero Sport. Ahyudin diketahui juga dengan leluasa menggunakan uang yayasan untuk membayar uang muka rumah dan pembelian furniture.

Ahyudin mengklaim bahwa ia mengembalikan 25 persen dari gaji pokoknya kepada rekening ACT sebagai donasi. Ia membenarkan terkait dengan fasilitas mewah kelas satu yang diterimanya. Namun, ia berdalih bahwa fasilitas tersebut sesuai dengan plafon yang telah disetujui pimpinan ACT.

Bahkan, menurut majalah tempo yang menanyakan kepada dua mantan petinggi ACT, besaran gaji tersebut belum termasuk dengan bonus-bonus yang mereka terima. Saat Idul Adha, misalnya, mereka mendapatkan satu kali gaji “bonus kurban”. Petinggi ACT juga menerima ekstra gaji ketika tahun ajaran baru tiba. Mereka juga juga menerima bonus jika jumlah donasi suatu program melebihi target.

Tidak hanya menerima gaji tinggi dan fasilitas mewah, petinggi ACT juga mampu meraup uang dari unit bisnis yang ada di bawah naungan lembaga tersebut, misalnya PT Hydro Perdana Retailindo yang mengelola jaringan minimarket Sodaqo Mart.

Berdasarkan Laporan keuangan perusahaan tersebut sepanjang 2018-2019, terdapat aliran dana untuk Ahyudin dan keluarganya. Pada 13 dan 18 November 2018, Hydro mengirimkan uang Rp 230 juta untuk uang muka pembelian rumah di Cianjur, Jawa Barat. Tercatat, sudah enam kali pembayaran cicilan rumah itu berasal dari Hydro dengan total Rp 275 juta.

Hydro diketahui turut membayar cicilan rumah di Bintaro, Tangerang Selatan senilai Rp 2, 86 Miliar. Selain rumah, dana mengalir kepada Ahyudin juga digunakan untuk pembelian perabot rumah yang jika di total secara keseluruhan bernilai Rp 634, 5 juta.

Ahyudin membantah telah menyelewengkan dana lembaganya itu. “Kalau saya tidak punya uang, boleh dong saya pinjam ke lembaga,” ujarnya dalam wawancara dengan Majalah Tempo. “Saat ini saya terlilit cicilan rumah, cicilan mobil, bahkan biaya sekolah anak. Jika saya membawa kabur duit lembaga dari mana logikanya?”

Dia juga menyatakan dipaksa untuk mundur dari ACT. Ahyudin mengaku difitnah menggunakan dana lembaga untuk kepentingan pribadinya. Dia bahkan berani menghadapi masalah ini di jalur hukum.

“Jika tuduhan itu benar, saya seharusnya dilaporkan ke penegak hukum,” kata dia.

 

Ubay Muzemmil
Gak tau mau ditulis apa

Latest articles