Investasi Rp 5 Triliun Dorong Hilirisasi Peternakan Ayam di 5 Provinsi Kunci

Satrio Lukito

Pemerintah Indonesia tengah menggenjot sektor peternakan melalui inisiatif hilirisasi ayam yang ambisius, dimulai dengan alokasi dana awal sebesar Rp 5 triliun. Proyek strategis ini menyasar lima provinsi utama sebagai lokus awal pengembangan, menandai langkah serius dalam membangun ekosistem peternakan yang terintegrasi dan berkelanjutan di tanah air. Provinsi-provinsi yang menjadi prioritas tahap pertama meliputi Gorontalo, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Lampung.

Inisiatif hilirisasi ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk peternakan ayam, tidak hanya berhenti pada budidaya primer, melainkan hingga ke tahap pengolahan dan distribusi produk turunan. Dengan demikian, diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Pelaksana proyek ini adalah PT Berdikari, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah naungan holding pangan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau yang dikenal sebagai ID Food.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menjelaskan bahwa persetujuan dana awal senilai Rp 5 triliun tersebut akan dicairkan secara bertahap. Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah pertemuan di Jakarta pada Jumat, 12 Juni 2026, menyoroti pendekatan yang terukur dan cermat dalam pengelolaan anggaran proyek berskala besar ini.

Lebih lanjut, Agung Suganda, yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Berdikari, mengungkapkan bahwa proyek ini telah melalui serangkaian studi kelayakan yang ketat dan mendapatkan restu dari PT Danantara Asset Management (DAM). Sebagai langkah awal, PT Berdikari akan mengajukan permohonan persetujuan kepada ID Food untuk penggunaan anggaran sebesar Rp 16,7 miliar. Dana ini dialokasikan khusus untuk tahap persiapan, termasuk pembangunan fasilitas-fasilitas esensial yang dibutuhkan dalam rangka memulai operasional proyek.

Pembangunan fasilitas akan dilakukan secara bertahap di setiap lokasi. Untuk Provinsi Gorontalo, fase awal akan difokuskan pada pembangunan pabrik pakan ayam, yang merupakan komponen krusial dalam rantai produksi peternakan modern. Setelah itu, akan dilanjutkan dengan pembangunan farm parent stock atau peternakan indukan ayam, memastikan ketersediaan bibit unggul. Pola serupa juga akan diterapkan di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, yang juga akan dilengkapi dengan dua fasilitas vital tersebut.

Sementara itu, di Provinsi Jawa Timur, progres pembangunan telah mencapai tahap farm grand parent stock atau peternakan induk inti. Keberadaan fasilitas ini sangat penting untuk menghasilkan parent stock yang berkualitas tinggi, yang pada gilirannya akan memengaruhi kualitas dan produktivitas ayam di tingkat peternak. Di sisi lain, dua provinsi lainnya, Sulawesi Selatan dan Lampung, masih dalam proses menunggu persetujuan penggunaan anggaran untuk persiapan pembangunan. Meskipun demikian, Agung Suganda menegaskan bahwa seluruh ekosistem pendukung proyek sudah mulai dipersiapkan dan dibentuk, menunjukkan komitmen untuk memastikan kelancaran implementasi di masa depan.

Tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik, PT Berdikari juga aktif menjalin kemitraan dengan berbagai kelompok dan koperasi peternak budidaya. Langkah ini penting untuk memberdayakan peternak lokal dan memastikan integrasi mereka dalam rantai nilai hilirisasi. Sebuah program percontohan bahkan telah berjalan di Kabupaten Cianjur, yang berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan model ekosistem yang akan direplikasi di lima wilayah proyek lainnya. Inisiatif ini menunjukkan pendekatan holistik yang tidak hanya berorientasi pada skala industri, tetapi juga pada pengembangan komunitas peternak.

Proyek hilirisasi peternakan ayam ini merupakan bagian dari visi yang lebih besar, dengan total anggaran mencapai Rp 16,7 triliun. Targetnya, proyek ini akan merambah 30 provinsi di seluruh Indonesia. Hingga tahun 2036, direncanakan akan dibangun sebanyak 337 unit peternakan terintegrasi. Ambisi ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk mengubah lanskap industri perunggasan nasional menjadi lebih modern, efisien, dan berdaya saing.

Secara resmi, dimulainya proyek hilirisasi perunggasan ini telah diresmikan oleh PT Danantara Asset Management pada 6 Februari 2026. Proyek ini diproyeksikan akan menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang masif, termasuk penyerapan 1,46 juta tenaga kerja. Dari sisi produksi, target yang ditetapkan sangat ambisius, yaitu mencapai 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur ayam. Angka-angka ini tidak hanya menunjukkan peningkatan signifikan dalam produksi pangan, tetapi juga potensi besar untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan bahkan membuka peluang ekspor di masa mendatang.

Secara keseluruhan, proyek hilirisasi peternakan ayam ini adalah upaya monumental untuk mentransformasi sektor perunggasan Indonesia. Dengan dukungan dana awal yang substansial, rencana implementasi yang terstruktur, dan visi jangka panjang yang jelas, inisiatif ini diharapkan mampu membawa industri peternakan ayam nasional ke level yang lebih tinggi, menciptakan lapangan kerja, dan memastikan ketersediaan pangan hewani yang berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Disclaimer

This article was rewritten using AI technology based on information from tempo.co without altering the facts of the original article.

Also Read

Tags